Pengisian Warna Cahaya Hidup pada Manusia

Waktu pengisian cahaya hidup di mulai dari sejak dari janin dan setiap hitungan bulan ganjil dan itu terjadi pengisian kekuatan gaib yang bersifat insani atau proses pendewasaan jiwa, dan penjelasannya sebagai berikut :
  1. Embrio pada bulan pertama yang masih berwujud cairan mani yang di saput indung telur dan diliputi oleh cahaya berwarna putih dan diidentifikasi sebagai sinuksman Sukmo Suci keberadaannya dilingkupi sukma suci (ruh Robbi) atau insani dan gerak hidupya di sebut muthma�inah dan daya yang masuk di beri identitas Sang Hyang Maha Suci , sifat hidupnya ibarat air dan bapak ibunya di sarankan untuk berbuat atau bertingkah laku pada kesucian lahir batin karena embrio pada kandungan ibu tersebut akan memberikan pengaruh atau terinduksi pada embrio dan akan muncul kelak setelah anak lahir dan menjadi dewasa dan ini tidak mengenal jarak, waktu, ruang baik sengaja maupun tida
  2. Janin usia tiga bulan sudah mulai tumbuh secara fisik dengan tanda-tanda pembentukan organ walalupun masih berwarna merah, inilah yang di maksudkan diliputi cahaya merah yang sinuksman Sukmo Weing atau di sebut Ruh Nurani atau rokhmani, gerak hidupnya di sebut amarah dan di beri identitas Sang Hyang Maha Waseso (yang berkuasa atas hidup). Sifat hidupnya ibarat api karena janin sudah bisa menyerap energi panas dari ibunya ( zat asam, makanan) sehingga dengan masuknya zat dari luar maka terjadi pertukaran zat antar janin dan ibunya dan sisa proses ini akan dikeluarkan dan diserap oleh ibunya untuk ikut di buang diluar tubuh. Zat-zat inilah yang memacu pertumbuhan sel-sel tubuh, termasuk sel otak, sekaligus menyerap getaran sensasi pikiran, jiwa, dan tingkah laku perbuatan orang tuanya yang kemudian menyatu dengan pembentukansimpul-simpul syaraf dalam tubuh dan otak janin. Inilah proses dimana sang bayi mulai merekam segala apa yang dilakukan orang tuanya. Dan perlu kehati-hatian dan kewaspadaan dari orang tua, jangan berangan atau melakukan sesuatu yang negative.
  3. Bayi dalam kandungan pada bulan kelima hampir semua tubuh sudah terbentuk, namun kondisinya masih sangat lemah, dan pada usia ini diliputi cahaya kuning  yang sinuksman Sukmo Rasa (nurani cahaya terang) yang disebut Ruh Idlafi /Rokhim ( jiwa yang terhalus yang bisa melihat Tuhan) atau disebut Sang Hyang Maha Luhur. Gerak hidupnya adalah Sufiyah, dan saat ini kondisi jiwanya  sudah mencapai ke tingkat budi (bijak) yang berarti sudah dapat mengenali adanya induksi dari lingkungannya. Disarankan pada orang tua agar waspada dan mengkondisikan situasi hidupnya pada hal-hal yang menentramkan, harmonis, rukun, damai, saling mencintai dan menjaga hati masing-masing dan budi pekerti luhur.
  4. Bayi dalam kandungan pada bulan ke tujuh ini sudah sempurna, organ tubuh sudah lengkap dan kuat dan pada usia ini bayi dilingkupi cahaya hitam, yang menandakan cahaya batinnya dan snuksman Sukmo jati (nyata) yang di identitaskan  sebagai Ruh Jasadi/ Kodir (berguna pada badan). Gerak hidupnya di sebut nafsi Lawwammah dan diidentitaskan Sang Hyang Moho Langgeng ( maha abadi)  Pada usia ini sari-sari makana yang diproduksi dari bumi di serapnya lewat sari makanan yang ada dalam tubuh ibunya dan menjadikannya unsure badaniah semakin sempurna. Bagi yang mengerti ilmu batin , segala organ tubuh yang terbagi dalam kelompok mana sakti yang terbagi sebagai berikut :
    • Wulu (bulu/rambut), kulit, daging
    • Getih (darah), balung (tulang), sumsum
    • Otot/urat(pembuluh nadi/darah), bayu (otot besar yang bertenaga)
    • Jantung, paru-paru, impes(kandung kencing)
    • Kemaras (limpa), usus; kesemuanya berjumlah 14 organ tubuh.
 Adapun hati dan otak dalam tenaga batin tidak dimasukkan sebagai organ tubuh fisik karena keduanya merupakan singgasana bersarangnya kekautan gaib. Dan sad (keenam) indranya yakni : penciuman pada hidung, pelihat pada mata, pendengar pada telinga, pengecap pada mulut, perasa pada seluruh ujung syaraf bagian luar tubuhnya sebagai alat bantu informative dari kerja otak dan hati juga tidak termasuk sebagai organ tubuh secara fisik. Dan pertumbuhan bayi berada bersifat jasmaniah, sehingga daya serap sang bayi berada pada posisi penyerapan pengaruh luar yang bersifat keragaan dan budaya kerja, dan tinggal menunggu saat kelahirannya.

  1.  Bayi pada usia kandungan sembilan bulan sepuluh hari (8 selapan x 35 hari = 280 hari) dan pada saat bayi normal dilahirkan ke duania sang bayi diliputi cahaya Abramarkata, dan pada saat lepas dari pintu gerbang gua garba sang ibu ia langsung  sinuksman oleh Sukmo Wicara (ruh pembicara), yang disebut Ruh Robbul�alamin, dan mulai saat itu sempurnalah jiwa dan jasadnya, lahir sebagai anak manusia yang insaniah dan jasadiah memiliki bekal awal batiniah yang baik badan kasar maupun badan halusnya  dan disebut sebagai sinuksman Sang Hyang Maha Mulyo (maha mulia) dan gerk hidupnya di sebut nafsi kapawitra. Pada saat kelahiran sang bayi adalah saat yang paling sensitive, artinya jangan sampai lingkungan sekitar semrawut, tidak tenang, tentram. Rasulullah pernah bersabda : � Kalian kelak di hari kiamat akan dipanggil dengan nama kalian dan dengan nama ayah kalian, maka berikanlah nama itu dengan yang baik-baik� ( Nasy�at Al � Masri, 1995 : 41-42)  Pada saat pemberian nama itulah terjadi proses �geter� (geletar sinar terang bak kilat yang hanya bisa dilihat oleh orang khusus ) dan �pater� (suara petir yang juga hanya dapat di dengar oleh orang khusus ) sebagai wujud kesaksian alam semesta dan kesaksianNya, dan ini akan sangat berpengaruh pada perjalanan hidup sang anak sampai kematiannya . Dan ini disebut sinuksman Sang Hyang Sukmo Kawekas (sukma terakhir/pamungkas).

0 Response to "Pengisian Warna Cahaya Hidup pada Manusia "

Poskan Komentar